Wednesday, July 07, 2004

Perjalanan


"Lagi2 aku pulang naek kereta. Kembali aku berpikir: 'kapan toh yah aku bakalan punya cukup uang buat punya mobil'.
Saat sedang asik2nya berfantasi dengan mobil yang ada dalam bayanganku, pintu kereta terbuka.
Seorang bapak2 yang ternyata buta masuk bersama temannya. Temannya memberi aba2 langkah yang harus bapak itu ambil.
Aku memandang takjub kepada bapak tersebut. Bapak itu berperawakan tinggi, dengan rambut yang sudah mulai tampak keabu2an. Tatapan matanya dalam. Jujur kubilang dia mempunyai mata yang indah dan lembut. Dengan sangat lihai dia masuk ke kereta dengan menggunakan tongkat penunjuk jalannya. Aku terus memperhatikan dia dan temannya yang penglihatannya normal.
Kurasa hanya akulah satu2nya orang di dalam kereta itu yang memperhatikan bapak itu dengan sedemikian rupa.
Aku mencoba membayangkan apa yang akan terjadi padaku seandainya besok pagi aku bangun tiba2 mataku tidak bisa melihat. Yang pasti aku akan merasa depresi sekali dan sangat takut. Tidak tahu kemana harus berjalan. Kemana2 harus berpegang pada orang lain. Kurasa aku akan sangat membutuhkan orang lain untuk menolongku.
Pikiranku kembali melayang kepada bapak tersebut. Temannya ternyata harus berpisah meninggalkan dia sendiri dan mereka berjanji untuk ketemu di tempat yang sama pada hari yang sama.
Aku kembali pada bayanganku sebagai orang buta. Aku akan takut untuk pergi keluar. Untuk bersosialisasi. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padaku. Apa aku akan bertemu dengan orang yang jahat atau orang yang baik. Pasti sebagai orang yang tidak bisa melihat, aku merasa akan pusing terhadap bunyi2 yang ada di sekitarku.
Aku melihat kembali kepada bapak tersebut dan bertanya2 kepada diri sendiri. Sudah berapa lamakah bapak itu tidak dapat melihat? Pastilah sudah sangat lama atau mungkin sejak kecil, sehingga dia sudah terbiasa memakai tongkatnya.
Sepanjang perjalanan bapak tersebut tidak melepas tongkat penuntun jalannya. Dia berpegang sangat erat pada tongkat itu. Temannya mungkin tidak bisa setiap saat ada di sisinya.
Sedangkan tongkat itu sudah ada bersama dia dalam saat2 dimana dia tidak dapat melihat.
Tongkat itu membantunya bepergian setiap saat. Mungkin bagi dia tongkat itu sudah sangat menjadi bagian dalam hidupnya.
Tuhan menegurku saat itu juga. Tongkat itu seperti halnya Tuhan. Teman yang selalu menemani kita, sebagai orang yang 'buta'. Tapi sayangnya jalan kita seringkali terantuk, karena sebagai orang yang 'buta' kita melepaskan pegangan kita pada tongkat tersebut.
Kita lebih mempercayai 'teman2' ataupun instink kita sendiri. Orang yang 'buta' tidak tahu kemana harus berjalan tanpa tongkatnya; gampang disasarkan oleh orang lain. Tapi dengan adanya tongkat, orang yang 'buta' akan menjadi lebih percaya diri, dia tahu kemana harus melangkah, karena dia percaya, bahwa tongkatnya tersebut akan selalu bisa dipegang erat2 oleh dirinya.
Saat keretaku berhenti di tempat yang akan kutuju, aku kembali melayangkan pandanganku kepada bapak tersebut. Dalam hati aku ingin sekali menyapanya dan menyampaikan terima kasih akan suatu pelajaran berharga yang aku terima."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home